29 Spesies: Angka Kecil yang Mewakili Kekosongan Besar
Pada 25 Mei 2026, BRIN menggelar acara yang diberi nama cukup langsung: "Exposing New Species - Flora." Di sini, peneliti BRIN bersama mitra nasional dan internasional mengumumkan bahwa selama periode 2025–2026, mereka telah mengidentifikasi dan mendokumentasikan 29 spesies tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui ilmu pengetahuan dunia.
Dua puluh sembilan mungkin terdengar kecil. Tapi angka ini perlu dipahami dalam konteks: Indonesia adalah rumah bagi sekitar 30.000–35.000 spesies tumbuhan yang telah diketahui — terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Kolombia. Dan para ahli botani memperkirakan ribuan hingga puluhan ribu spesies lagi yang belum pernah didokumentasikan. Setiap kali peneliti masuk ke hutan terpencil di Kalimantan, Sulawesi, Papua, atau Aceh, kemungkinan besar mereka akan menemukan sesuatu yang baru. Masalahnya adalah: hutan-hutan itu sedang berkurang.
Penemuan 29 spesies baru dalam setahun adalah pengingat bahwa eksplorasi biodiversitas Indonesia masih sangat jauh dari selesai — dan bahwa kita mungkin kehilangan spesies sebelum sempat menemukannya.
Rafflesia harjatiae: Bunga Terbesar di Dunia, Spesies Baru, Dekat IKN
Rafflesia harjatiae adalah temuan yang paling dramatis dari batch 2025–2026. Genus Rafflesia dikenal sebagai penghasil bunga tunggal terbesar di dunia — beberapa spesiesnya mencapai diameter lebih dari 1 meter — dan bersifat parasit total: tidak memiliki daun, batang, maupun akar sendiri, hidup sepenuhnya di dalam jaringan tanaman inang dari genus Tetrastigma.
Spesies ini pertama kali ditemukan pada 2022 di areal konsesi hutan ITCI-Kartika Utama di Sepaku, Kalimantan Timur. Sepaku bukan nama yang asing: ini adalah kecamatan di mana Ibu Kota Nusantara (IKN) sedang dibangun. Populasi bunga ini sebenarnya sudah pernah dilaporkan oleh Smits pada 1980 dan Atmoko pada 2014, tetapi tidak bisa diidentifikasi sebagai spesies tersendiri saat itu.
Analisis DNA akhirnya mengkonfirmasi bahwa R. harjatiae adalah spesies yang berbeda dari Rafflesia Kalimantan lainnya — ia paling mirip secara morfologi dengan R. tengku-adlinii dari Sabah, Malaysia, dan R. aurantia dari Luzon, Filipina, namun secara genetik berbeda dari keduanya. Spesies ini dinamai untuk menghormati Harjati Hashim Djojohadikusumo atas kontribusinya dalam konservasi alam.
Ironi yang keras: sebuah spesies Rafflesia baru ditemukan di kawasan yang sama dengan di mana pembangunan ibu kota baru sedang berlangsung besar-besaran. Meskipun lokasi tepatnya berada di dalam areal konsesi kehutanan, bukan di zona konstruksi langsung, keberadaan spesies endemik dan langka di ekosistem yang sama dengan proyek infrastruktur skala besar menimbulkan pertanyaan konservasi yang belum sepenuhnya dijawab.
Rhododendron yambuwuril: Bunga Oranye Cerah dari Sulawesi yang Hampir Terlewatkan
Berbeda dengan Rafflesia yang dramatis dan besar, Rhododendron yambuwuril adalah tanaman yang lebih halus — tapi tidak kurang menarik. Spesies ini ditemukan pada Juni 2023 sebagai tanaman yang dibudidayakan di kawasan Air Terjun Saluopa, Sulawesi Tengah, dan diperkirakan berasal dari area Petirorano di Pegunungan Tokorondo, pada ketinggian sekitar 1.000–1.800 meter di atas permukaan laut.
Keistimewaan utamanya adalah bunganya yang berwarna oranye cerah yang mencolok — berbeda dari sebagian besar Rhododendron di Sulawesi yang berbunga merah. Secara morfologi, ia paling mirip dengan R. celebicum yang berbunga merah, tetapi analisis DNA menunjukkan hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan R. bagobonum — sebuah paradoks genetik-morfologi yang menarik bagi ahli taksonomi.
Spesies ini dinamai untuk menghormati mendiang Pendeta Yombu Wuri, tokoh agama dan budaya dari Suku Pamona yang dikenal atas advokasi konservasi biodiversitas di Poso. Ini adalah praktik penamaan yang memberi pengakuan kepada pemangku kepentingan lokal — orang-orang yang sering pertama kali mengetahui keberadaan tanaman ini jauh sebelum peneliti datang.
Chiloschista tjiasmantoi: Anggrek Aceh yang Tumbuh di Antara Pohon Kopi
Penemuan ketiga yang menonjol adalah Chiloschista tjiasmantoi, sebuah spesies anggrek yang ditemukan pada 2019 dari lima lokasi di dua kabupaten berbeda di Aceh. Yang menarik bukan hanya spesiesnya, tetapi di mana ia ditemukan: tumbuh secara epifit di pohon-pohon kopi tua di perkebunan lokal milik warga.
Ini memiliki implikasi konservasi yang penting. Kebanyakan orang mengasosiasikan spesies langka dengan hutan primer yang tidak terjamah. Tapi C. tjiasmantoi ditemukan di lanskap pertanian yang dikelola manusia — kebun kopi yang telah ada selama puluhan tahun. Ini menunjukkan bahwa pertanian tradisional skala kecil, terutama yang tidak menggunakan herbisida berat dan mempertahankan pohon naungan tua, bisa menjadi refugia bagi keanekaragaman hayati yang tidak terduga.
Spesimen hidup kemudian dikumpulkan dan saat ini dirawat di laboratorium untuk penelitian lebih lanjut. Distribusi yang tersebar di dua kabupaten berbeda menunjukkan bahwa populasinya mungkin lebih luas dari yang diketahui saat ini.
Mengapa Ini Penting: Indonesia di Persimpangan Antara Kekayaan dan Kehilangan
Indonesia adalah satu dari hanya 17 negara yang disebut "megadiverse" — sebuah kategori yang ditetapkan oleh Conservation International untuk negara-negara yang bersama-sama menampung lebih dari 70% keanekaragaman hayati Bumi. Dalam hal tumbuhan, ini berarti Indonesia memiliki tanggung jawab global yang luar biasa besar.
Namun, tingkat deforestasi Indonesia juga termasuk yang tertinggi di dunia secara historis. Hutan dataran rendah Kalimantan — habitat Rafflesia harjatiae — telah kehilangan sebagian besar tutupan aslinya dalam 40 tahun terakhir. Hutan pegunungan Sulawesi dan Aceh menghadapi tekanan dari ekspansi pertanian dan infrastruktur. Setiap spesies baru yang ditemukan membawa serta pertanyaan yang sama: berapa lama habitatnya akan bertahan?
Pengumuman 29 spesies baru oleh BRIN adalah berita baik tentang kapasitas penelitian Indonesia yang terus berkembang. Tapi ia juga merupakan pengingat tentang apa yang dipertaruhkan setiap kali sebuah hutan dibuka atau sebuah gunung dieksplorasi untuk pertambangan. Spesies yang belum ditemukan tidak bisa dilindungi — dan Indonesia masih menyimpan ribuan yang menunggu untuk dikenal.

